I’m getting older!!!

April 15th, 2008 by arastiya

"Sengsara" membawa nikmat….itu adalah hadiah yang  gw terima di birthday tahun ini. Awalnya, gw mo cuti akhir Maret lalu (untuk menghabiskan jatah cuti tahun 2006 yang hangus bulan Maret 2008!). Tapi saat tugas memanggil…ape mo dikate hehehe. Meski waktu itu bos gw tidak memaksa gw untuk melaksanakan tugas tersebut, gw tetap "merasa tak punya pilihan". Apalagi setelah dipikir-pikir, tugas liputan ke Atambua yang menjadi perbatasan NTT dengan Timor Leste, plus masuk Timor Leste…tentu akan menjadi sebuah pengalaman sangat berharga buat gw. At last, gw sepakat untuk menerima tugas tersebut plus mengundurkan waktu cuti gw.

Singkat cerita, tanpa gw rencanakan dan tanpa disengaja, menerima tugas tersebut ternyata menjadi kesempatan gw untuk mengabulkan permintaan emak gw sejak bertahun-tahun lalu: berada di rumah, bersama keluarga, di hari pertambahan umur (mengingat sejak merantau ke Depok n Jakarta, gw jarang banget pulang heheheh….apalagi untuk sekedar "merayakan" ulang tahun). Yup…rasanya hari ulang tahun bukanlah sesuatu yang sangat istimewa, sehingga gw harus "do something special"…ya gak sih? Yang penting mah kita instropeksi diri, apa aja sih yang udah kita kerjain selama ini? Apakah kita sudah lebih baik dan bijak memanfaatkan jatah hidup yang semakin berkurang?

Tapi…gw pun teringat pada kejadian saat gw ultah setahun lalu dan 2 tahun lalu. Kala detik-detik bertambahnya umur, gw berada di depan komputer kantor, BEKERJA! Then I realised that I spent most of my time…WORKING! Gw jadi mikir…sebetulnya apa sih yang gw mau? Apa sih tujuan hidup gw? Apakah gw sudah adil dalam memanfaatkan kesempatan hidup yang diberikan Allah SWT ? Hmmm….sepertinya ada yang salah nih! Salah satunya…betapa minimnya waktu yang gw berikan untuk orang-orang yang mencintai gw dan gw cintai, khususnya keluarga gw!!! Pekerjaan selalu menjadi "pembenaran" gw untuk tak datang ke acara keluarga, mulai sekedar kumpul-kumpul hingga kawinan. Pun ajakan teman-teman dekat, yang sering gw jawab, "Duuh sorry banget, kayaknya gw gak bisa deh, banyak kerjaan euy".

So…singkat cerita lagi, tahun ini Allah memberi gw sebuah kesempatan besar, untuk berbahagia sekaligus "berpikir" !

Di malam ulang tahun, emak gw memberi kejutan dengan tiba-tiba pulang (karena biasanya tinggal di rumah dinas yang jaraknya sekitar 1 jam perjalanan ke rumah gw), dan menginap. Biasanya…weeeeh susah bener emak gw bisa nginap di rumah, even weekend sekalipun, karena tuntutan pekerjaan (hehehe….jadi soal tanggung jawab pada kerjaan, ane belajar dari emak ye :P). Rupanya emak gw gak mau menyia-nyiakan "moment langka" ini. Setelah tak "mendapatkannya" selama 10 tahun, akhirnya gw kembali menerima kado istimewa itu…kecupan yang diiringi doa dari emak tersayang :)

Pagi harinya, saat gw ke rumah nini, gw dikejutkan dengan nasi kuning plus bubur jagung bikinan ua gw yang siap terhidang di meja makan! (Bubur jagung adalah salah satu makanan FAVORIT gw). heheheh….kalau kayak gini caranya…enak nih kalau ulang tahun tiap hari :P

Malam harinya, gw ngumpul dengan keluarga, termasuk ua-ua gw, sekedar makan bersama untuk "membayar" sedikit "hutang" gw pada mereka (karena jarangnya gw bisa ngumpul, termasuk saat lebaran sekalipun!).

Dan …tak disangka-sangka, malam itu gw kembali mendapat kejutan. Tanpa gw sadari, emak dan ua gw "menghilang" dari ruang makan….then, mereka masuk sambil berbaris dan bernyanyi (meski dengan suara pas-pasan hehehe).  Kenapa berbaris? Rupanya emak gw yang berjalan di belakang ua gw, menyembunyikan kejutan…a birthday cake!!!

Weleh……siapa yang gak leleh coba?!! Gw terharu banget. They love me so much! Sedangkan gw, sering gak adil pada mereka :(

Well…yang menjadi istimewa buat gw, bukanlah hari ulang tahunnya or perayaannya. Tapi pada sebuah moment yang membuat gw merasakan kembali kehangatan keluarga. Moment yang mengajak gw untuk "berpikir".

Aku, Kamu & Dia (Part 6)

December 7th, 2007 by arastiya

Tak banyak yang dibicarakan oleh Yara dan Agung. Mereka lebih sering saling terdiam. Pertemuan selama 30 menit hanya berisi pertanyaan bagaimana kondisi Ardi dan kronologis kecelakaan. Kedua pertanyan tersebut pun hanya bersambut jawaban super singkat dari mulut Yara. Toh memang tak banyak yang bisa diceritakan Yara, selain Ardi koma dan Ardi ditabrak truk dari belakang saat mengendarai motor menuju rumah Yara. Selain itu, Yara merasa sangat tak nyaman dengan kedatangan Agung di rumah sakit. Rasa bersalah seperti tombak yang kian menusuk jantungnya. Disaat Ardi terbaring koma, karena kesalahannya, Yara justru duduk bersama Agung. Laki-laki yang menjadi alasan Yara meminta Ardi datang siang itu. “Uuuuukh”, dalam hati Yara mengutuk dirinya sendiri.

Di lain pihak, Agung kehabisan kata untuk bisa membuka pembicaraan. Ia terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri. Di hari yang sama, dia dihadapkan pada 2 kejadian “besar”. Hanya selang 1 jam setelah mendapat kabar kesediaan Dira untuk menikah dengannya, Agung menerima sms dari Yara. Memberitahunya jika Yara tak jadi menikah besok. Apalagi, kini ia tahu jika Ardi dalam kondisi koma. Jika Ardi meninggal, bukankah ia mendapat peluang besar untuk mendapatkan Yara? Pikiran itu sempat terlintas meski segera ditepis karena membuatnya seolah menjadi seorang penjahat.

“Darimana kamu tahu kalau Ardi dirawat di sini?”, akhirnya Yara memecah keheningan diantara mereka. “Tadi aku telepon ke rumahmu. Bi Sum yang kasih tahu.” Keduanya kembali terdiam. Agung melirik jam tangan, kamulflase rasa gugupnya. Tapi akhirnya ia memilih pamit.

Yara kembali ke ruang tunggu ICU. Tapi ia tak menemukan Bu Dharmawan. Yara menerka jika calon ibu mertuanya sudah beranjak ke musholla karena tinggal beberapa menit lagi adzan Maghrib akan berkumandang. Langkahnya kini mengarah ke ruang ICU, mendekati Ardi yang masih terbaring tak sadarkan diri. Yara memandang wajah bersih berkulit sawo matang di depannya. Matanya berkaca-kaca dan dadanya kembali sesak, terhimpit rasa bersalah. “Di, aku mohon, maafkan aku. Aku mohon, cepatlah kembali.”, Yara berbisik lirih di dekat telinga Ardi.

@@@

Dua bulan berlalu, tapi kondisi Ardi masih tetap sama, koma. Yara masih setia menemani Bu Dharmawan di rumah sakit. Kedua kakak Ardi yang sudah berumah tangga dan memiliki anak yang masih balita, tak memungkinkan untuk menunggu Ardi di rumah sakit. Begitu pula Pak Dharmawan yang tak bisa meninggalkan urusan kantor terlalu lama. Tidur di rumah sakit, pulang ke rumah selepas subuh untuk bersiap ke kantor, bekerja hingga pukul 5 sore, pulang ke rumah untuk mandi dan berganti pakaian, lalu kembali ke rumah sakit, itulah rutinitas Yara kini. Rutinitas yang mendekatkannya dengan Bu Dharmawan dan mengenal sosok Ardi dari sudut yang lain.

Topik yang paling sering dibicarakan Yara dan Bu Dharmawan, tentu saja seputar Ardi. Ardi si anak bungsu dan satu-satunya laki-laki dari 3 bersaudara. Yara sungguh tak menyangka jika dibalik badannya yang tinggi besar, Ardi ternyata sangat takut pada cecak. Penyebabnya, saat Ardi masih 4 tahun, seekor cecak jatuh tepat di wajahnya, hingga membangunkannya yang tengah terlelap tidur. Ardi sering bertingkah konyol jika melihat cecak, bahkan setelah ia dewasa sekalipun. Ia akan berlari sambil meloncat-loncat kecil. Ini mengingatkan Yara pada presenter Ferdy Hasan yang takut dengan hampir semua jenis hewan. Yara pernah melihat Ferdy Hasan lari terbirit-birit keluar studio saat ia memandu program Good Morning di Trans TV, dan tamunya adalah seorang pecinta ular, lengkap dengan peliharaan kesayangannya.

Bu Dharmawan juga bercerita tentang masa remaja Ardi yang dijuluki play boy. Penyebabnya, Ardi selalu kencan dengan perempuan yang berbeda setiap minggu. Ardi tak pernah menolak jika ada teman perempuannya ngajak nonton ke bioskop, jalan-jalan ke mall dan kencan ala remaja lainnya. Tapi dari semua kencan itu, tak satu pun yang terjadi atas ajakan dirinya. Ardi seperti remaja yang tak punya keinginan. Ia hanya melakukan apa yang orang minta darinya. Bu Dharmawan dan Pak Dharmawan sempat khawatir melihat Ardi yang terlihat menjelma menjadi manusia tanpa prinsip. Hingga belakangan mereka menyadari jika apa yang dilakukan Ardi hanyalah pelarian dari rasa kesepiannya. Orang tuanya terlalu sibuk bekerja sementara ia tak dekat dengan kedua kakak perempuannya. Kakak pertamanya yang sudah menjadi seorang mahasiswi, begitu asyik dengan kegiatannya di kampus. Mulai menjadi pengurus senat hingga latihan karate. Sementara kakak keduanya, lebih suka hang-out dengan geng-nya ketimbang berdiam diri di rumah. Sementara Ardi yang pendiam dan intovert, hanya berteman dengan orang yang itu-itu saja.

Karena Ardi selalu menclok sana menclok sini, akhirnya banyak perempuan yang merasa dipermainkan. Ada yang marah-marah di telepon, ada pula yang sampai datang ke rumah untuk meledakkan amarah pada Ardi. Beberapa diantaranya bahkan terjadi di hadapan Bu Dharmawan. Namun saat sang bunda menegur, Ardi menanggapinya dengan datar. Karena menurut pandangan Ardi, dirinya tak bersalah. Toh bukan ia yang mengajak jalan. Toh ia tak pernah menyatakan cinta, apalagi mengikrarkan jadian. Jadi, apa yang harus dipersoalkan?

Meski terlihat adem ayem, tapi Ardi kian mirip gunung berapi yang telah berstatus siaga. Dalam kepasifan sikapnya, Ardi justru menebar benih kebencian pada orang-orang di sekitarnya. Dan hal ini ternyata hanya awal dari kenakalan-kenakalan Ardi selanjutnya yang semakin membuat keluarganya khawatir.

Suatu ketika, Bu Dharmawan menemukan puntung rokok di kamar Ardi. Awalnya Ardi menyangkal dirinya merokok. Dia beralasan jika rokok tersebut bekas dihisap temannya. Tak lama berselang, Bu Dharmawan yang makin curiga, diam-diam menggeledah isi ransel sekolah Ardi, lalu menemukan sebungkus rokok. Saat ditanya, Ardi justru marah karena merasa privasinya telah direcoki. Ujung-ujungnya, Ardi jadi jarang pulang ke rumah.

Kejutan selanjutnya, Pak Dharmawan mendapat surat pemberitahuan dari sekolah jika Ardi sudah beberapa kali membolos. Saat ditegur orang tuanya, Ardi hanya diam dan bersikap apatis. Ia tidak melakukan pembelaan diri ataupun penyangkalan. Kenakalannya yang satu ini, membuat nilai rapot Ardi kebakaran.

Akhirnya Bu Dharmawan memutuskan berhenti bekerja agar memiliki lebih banyak waktu yang bisa dihabiskan di rumah. Ia tak mau Ardi yang saat itu mencari perhatian dengan tebar pesona pada perempuan, mulai merokok dan sering membangkang, akan melebarkan sayap dengan mencoba narkoba atau pergaulan bebas.

Secara perlahan, kedekatan Bu Dharmawan dengan putra bungsunya, mulai mengubah Ardi. Dia tak lagi gemar mengisi akhir pekannya dengan jalan-jalan tak jelas. Dia lebih memilih diam di rumah, ngobrol dengan orangtuanya, membaca majalah, main gitar akustik, dan terkadang ngumpul dengan beberapa teman dekatnya di teras belakang.

Selanjutnya, Bu Dharmawan menceritakan sesuatu yang sedikit mengagetkan Yara. Entah sudah berapa banyak perempuan yang jalan atau kencan dengan Ardi, tapi ia tak pernah satu kalipun mendengar Ardi bercerita tentang salah satu dari mereka. Misalnya, dia sebetulnya suka pada siapa, atau sekedar tertarik pada siapa. Bu Dharmawan malah menangkap sinyal ketidakpeduliannya pada perempuan. Hingga suatu hari, akhirnya mulut Ardi bercerita tentang satu sosok.

Saat itu Ardi masih kuliah semester 1. Keluarga Dharmawan tengah berkumpul untuk makan malam. Awalnya, Ardi bercerita tentang argumen yang dikemukakannya di acara debat mahasiswa di kampus, yang berlangsung siang tadi. Lalu ia menceritakan seorang perempuan yang berbeda pendapat dengannya. Mereka berdua akhirnya beradu argumen dan alasan-alasannya. Sekilas, memang tak ada yang istimewa dari cerita Ardi. Tapi cara dan gaya Ardi yang begitu bersemangat saat mendeskripsikan sosok perempuan itu, membuat Bu Darmawan merasakan sesuatu yang berbeda. Tak biasanya Ardi bercerita dengan penjiwaan. Biasanya, kata-kata mengalir tanpa emosi, tanpa ekspresi.

Sosok perempuan tanpa nama tersebut ternyata tak hanya sekali menjadi topik pembicaraan di keluarga Dharmawan. Selang beberapa hari kemudian, Ardi pulang kuliah dan langsung menuju ruang keluarga. Saat itu Bu Dharmawan tengah memimun secangkir teh hangat plus pisang goreng buatannya sendiri. Ardi melemparkan tubuhnya ke atas sofa, tepat di samping ibunya. Tanpa diminta, Ardi mulai membagi pengalamannya hari itu pada sang bunda.

“Aku ketemu sama dia lagi, Ma.”

“Dia siapa?“

“Perempuan yang tempo hari berdebat sama aku. Ternyata dia satu fakultas dan satu angkatan sama aku. Tadi aku melihatnya pas kuliah umum.“

“Terus?“

            “Ya gak terus sih, Ma. Cuma segitu aja.“

Beberapa hari kemudian….

            “Tadi aku satu kereta, Ma, sama dia.“

“Dia, siapa?“

“Perempuan itu. Tapi aku juga baru sadar kalau satu gerbong sama dia, waktu di stasiun Lenteng Agung. Awalnya aku liatin seorang ibu-ibu yang naik sambil gendong anaknya. Terus ada seorang perempuan yang memberikan tempat duduknya sama di ibu-ibu itu. Pas aku perhatiin, eeh ternyata dia perempuan itu.“

“Tumben kamu perhatiin orang lain. Biasanya cuek aja.“

“Yaaa…. kan jarang-jarang ada orang yang ngasih tempat duduknya sama orang lain. Jadi aku penasaran liat orang itu.“

Beberapa minggu kemudian…..

            “Dia bernama Yara, Ma.“

“Dia siapa?“

“Perempuan itu. Tadi rapat pertama pengurus senat yang baru. Perkenalan gitu, deh. Nah, ternyata dia ikut jadi pengurus juga.

Untuk keempat kalinya, Bu Dharmawan mendengar laporan harian Ardi, dimana sosok perempuan itu menjadi topik utama. Ia semakin yakin jika perempuan itu, disadari ataupun tidak oleh putranya, telah mencuri perhatian Ardi. Bu Dharmawan merasa lega, karena hal tersebut mengindikasikan hati Ardi tak lagi sedingin gunung es. Tapi perasaan itu tak bertahan lama. Karena selanjutnya, Ardi tak pernah lagi bercerita tentang sosok perempuan itu. Tentang Yara.

Bu Dharmawan pernah berusaha memancing, dengan bertanya, “Apa kabar perempuan itu. Maksud Ibu, Yara.“ Tapi Ardi hanya menjawabnya dengan satu kata, “Baik.“ Bu Dharmawan melihat Ardi kembali dingin dan super cuek pada perempuan. Sang ibu menerka-nerka jika hal ini berkaitan dengan aktifnya Ardi dalam kegiatan rohis di kampusnya beberapa waktu belakangan.

Nama Yara baru kembali disebut sekitar 3 tahun kemudian. Tepatnya beberapa hari menjelang wisuda. Itu pun hanya sekilas, saat Ardi menyebut beberapa nama mahasiswa lain yang sekiranya dikenal Bu Dharmawan, yang juga lulus semester itu. Selanjutnya, nama Yara kembali menguap. Hingga akhirnya, 2 tahun lalu, Ardi tiba-tiba memberi kejutan. Malam itu, Ardi meminta waktu untuk bicara pada kedua orang tuanya. Wajahnya sangat serius plus tegang. Tanpa berpanjang-panjang, Ardi meminta persetujuan orang tuanya untuk melamar Yara.

Dengan semua cerita Bu Dharmawan, Yara jadi mengenal sosok lain dari Ardi. Hidup tunangannya itu, ternyata tak selurus yang ia kira. Ardi bukan laki-laki sempurna tanpa kekurangan. Bukan pula laki-laki kuat tanpa titik lemah. Ardi hanyalah laki-laki biasa yang juga pernah terjatuh dan berusaha kembali bangkit. Kedekatan Yara dengan Bu Dharmawan, secara tak langsung mendekatkan gadis berkulit sawo matang itu pada the real Ardi.

@@@

Sabtu siang, seperti biasa, Yara menemani Bu Dharmawan di ruang tunggu ICU. Meski siang itu, sebetulnya Bu Dharmawan sudah ditemani Pak Dharmawan yang kerap ada urusan kerja keluar kota, walau di akhir pekan sekalipun. Yara sudah tak canggung lagi berada di tengah-tengah keluarga Dharmawan. Orang tua Ardi memang telah menganggap Yara sebagi anak ke-empat mereka, meski Yara belum resmi menjadi menantu.

Pak Dharmawan yang pandai mencairkan suasana dengan berbagai candaan, membuat Yara betah berada di dekat lelaki 60 tahunan tersebut. Tapi, kehangatan pribadi Pak Dharmawan tak menurun 100 persen pada putranya. Ardi relatif diam dan kaku. Dia bisa ngobrol panjang apalagi saling melempar canda, hanya dengan orang tertentu saja.

Yara dan kedua orang tua Ardi larut dalam perbincangan yang sejenak melepaskan mereka dari resah dan kesedihan. Seolah mereka tak sedang berada si ruang tunggu ICU, dan Ardi tak terbaring koma. Hingga sebuah ucapan salam menyetop perbincangan tersebut. Ketiganya menjawab salam tersebut sambil menoleh pada si pemilik suara. Agung tengah berdiri tepat di belakang Yara.

“Maaf saya mengganggu. Saya Agung, Pak, Bu. Temannya Yara. Boleh saya bicara sebentar dengan Yara di luar?“, Agung meminta ijin pada calon mertua Yara.

“Oh silahkan.“ Pak Dharmawan menjawab hangat namun dengan tatapan mata yang mengisyaratkan curiga.

            Agung mengajak Yara menuju lobi utama rumah sakit, yang terletak di lantai dasar. Meski lobi cukup ramai, mereka berdua mendapat tempat yang cukup nyaman untuk berbincang. Lobi tersebut memang sangat luas dan difasilitasi dengan sofa yang relatif banyak. Keduanya duduk di sofa yang letaknya dekat dengan pintu masuk utama.

            Agung duduk, lalu membuka ranselnya dan mengeluarkan sebuah kartu undangan. “Aku sangat mengharapkan kedatangan kamu, Ra. Terutama doa kamu.“, ucap Agung seraya menyerahkan kartu undangan tersebut pada Yara. Tangan Yara sedikit bergetar saat menerima undangan itu. Ia sudah bisa menerka, jika undangan tersebut pastilah undangan pernikahan Agung dengan Dira. Sejenak Yara terdiam dan menatap undangan berwarna biru tua yang terlihat sangat sederhana itu. Dugaannya tepat, nama Agung dan Dira tercetak di atas undangan tersebut. Yara melihat tanggal pernikahan, seminggu lagi! Yara lalu mengangkat wajahnya. Ia berusaha tersenyum.

“Insya Allah aku akan datang, Gung. Mudah-mudahan semuanya berjalan lancar ya. Gak ada halangan apa pun, hingga pernikahan kalian bisa berlangsung seperti rencana“

“Amin.”

“Semoga kamu bisa jadi imam yang baik untuk istri dan anak-anak kalian kelak.“

“Amin.”

Keduanya terdiam. Agung segera mengajukan pertanyaan untuk memecah kekikukan diantara mereka. “Ngomong-ngomong, gimana kabar Ardi? Ada kemajuan?”

“Masih sama, Gung. Tolong bantu doa, ya.” Yara sudah bisa menguasai diri hingga mampu melepas senyuman tanpa dibuat-buat. Agung mengangguk. Selama beberapa detik keduanya kembali terdiam, sebelum akhirnya Agung memamitkan diri.

Selepas Agung beranjak pergi, Yara tak segera kembali ke ruang tunggu ICU. Ia melangkah menuju taman di tengah-tengah kompleks rumah sakit. Yara tersenyum kala melihat tempat favoritnya, sebuah kursi dari besi di bawah pohon yang cukup rindang, kosong. Bergegas Yara menuju kursi tersebut, sebelum ada orang lain yang mendahuluinya.

Perlahan jemari Yara membuka plastik bening yang membungkus kartu undangan Agung. Ia membuka dan membaca nama lengkap pasangan calon pengantin, waktu dan tempat pernikahan. Pipinya kini terasa hangat karena setetes air mata melintas. Yara berusaha menguatkan diri. Ia mengingat pada harapan dan komitmen yang dibuatnya sebulan lalu….

Hari itu, Agung datang ke rumah sakit untuk kedua kalinya. Agung mengajak Yara makan siang di restoran cepat saji yang tak jauh dari rumah sakit. Agung memohon agar Yara bersedia ikut dengannya karena ada hal serius yang ingin ia bicarakan.

Yara hampir saja tersedak gara-gara mendengar pertanyaan Agung, “Ra, kamu mau terus nungguin Ardi?“

“Maksud kamu?“

“Yaa…Ardi kan sudah sebulan koma. Kita gak pernah tahu apakah…“

            “Apakah dia akan sadar atau meninggal? Begitu maksudmu?“

Agung terdiam.

“Iya, aku akan terus menunggu Ardi. Aku tak peduli apa akhirnya. Apakah ia akan sadar dan sehat lagi, atau ia tak mampu bertahan.“

“Kamu benar-benar mencintai dia, ya?“

            Pertanyaan itu hampir saja membuat Yara menangis. Tapi ia kuasa menahan air matanya hingga sebatas berkaca-kaca. Ia memilih berbohong dibanding mengungkap kecamuk di hatinya pada Agung. “Iya, aku mencintainya. Sangat mencintainya.”

Hati Agung teriris saat mendengar kalimat itu. Tapi kini ia mantap dengan keputusannya. Sesungguhnya, tujuan Agung menemui Yara siang itu adalah untuk memastikan perasaan Yara. Agung ingin melangkah tanpa penyesalan. Dua hari lagi ia akan resmi melamar Dira. Bagi Agung, pengakuan Yara adalah kepastian bahwa mereka berdua memang tak berjodoh.

Selepas bertemu Agung, Yara langsung menemui Ardi di ruang ICU. Yara tak mampu lagi menahan airmata yang sejak tadi memberontak minta keluar. Ia duduk di bangku yang terletak di samping kanan tempat tidur Ardi. Matanya menatap lekat wajah Ardi yang tak lagi tampak segar seperti dulu. Tak satu pun kata yang yang terucap dari mulutnya. Namun hatinya mulai berdialog dengan Yang Maha Kuasa.

“Ya Allah, tak terhitung kesalahan yang kubuat. Ampuni aku, ya Rabbi. Kumohon, bimbing aku agar tak mengulang semua kesalahan itu. Saat Kau hadirkan Agung, aku begitu terobsesi pada Ardi. Dan saat Kau hadirkan Ardi, aku malah ingin lari dan mencari Agung. Aku sungguh tak bersyukur. Ya Allah, jalan-Mu kerap tak bisa kumengerti, tapi aku yakin jika Kau akan selalu memberi yang terbaik. Ya Allah, maafkan hamba. Tapi ijinkalah aku kembali memohon pada-Mu. Ya Allah, jika memang Ardi adalah laki-laki yang Kau pilihkan untukku, berikanlah aku kekuatan untuk ikhlas menerima ketetapan-Mu. Berilah aku kekuatan untuk mencintainya, karena-Mu. Amin.“ Tangan Yara meraih selimut yang menutup kaki hingga perut Ardi. Kini selimut itu menghangatkan tubuh Ardi hingga di bagian dada. “Di, aku ke musholla dulu ya, sudah ashar. Nanti aku kembali lagi. Kita ngaji lagi ya.“, Yara pamit dengan berbisik.

 

            Sejak hari itu, Yara berusaha lebih ikhlas menemani Ardi di rumah sakit, bukan karena rasa bersalah tapi karena ia memang peduli. Yara juga lebih sering berdoa, memohon yang terbaik bagi Ardi, juga untuknya. Yara pun berusaha membuka hati dan menyayangi Ardi sebagai sosok yang lain. Bukan lagi Ardi dalam kesempurnaan hingga menjadi sosok obsesinya. Usahanya ini sangat terbantu oleh kedekatannya dengan Bu Dharmawan yang mengenalkannya pada pribadi Ardi sebagai manusia biasa.

            Tapi saat ini, Yara tak bisa menyangkal jika undangan yang ada di tangannya, mengusik kekuatan yang sudah dihimpunnya selama sebulan belakangan. Adalah bohong jika ia mengaku kasihnya pada Agung sudah berlalu. Rasa itu masih ada, meski ia sudah berusaha keras melepasnya. Undangan pernikahan Agung membawa Yara ke dalam pedih dan galau. Ia merasa terperosok ke titik dimana ia merasa begitu lemah dan malang. Bagaimana tidak?! Kini ia menghadapi kenyataan bahwa Agung akan resmi menjadi suami Dira. Sedangkan ia, terkatung dengan harapan tak menentu. Akankah Ardi selamat dari koma? Atau ia akan ditinggal Ardi setelah kehilangan Agung?

            Yara terus menguatkan hati agar tak menangis. Ia malu jika orang yang hilir mudik di taman rumah sakit menangkap basah airmatanya. Meski wajah yang bersedih dan kegelisahan sudah jamak dilihat di lingkungan rumah sakit, Yara tak mau mengundang komentar orang yang mengasihani dirinya.

            Yara melihat jam tangan yang melilit di lengan kirinya. Pukul 4 lebih 15 menit. Ia tersadar hampir lupa melaksanakan sholat ashar. Yara bergegas menuju musholla yang letaknya masih di lingkungan taman. Air wudhu terasa begitu lembut menyentuh kulitnya, merasuk lewat pori-pori, menyejukkan jiwa.

            Yara larut dalam persuaan mesra dengan Sang Khaliq. Hatinya berangsur terasa damai. Usai mengucapkan salam, Yara bertasbih dan kembali mengadu, mencurahkan hatinya pada Tuhan. Kali ini, ia biarkan airmata menjadi luapan emosinya.

            Sepuluh menit kemudian, Yara melangkah ke toilet musholla. Ia membasuh wajahnya dengan air, berusaha menghilangkan jejak tangisan. Selanjutnya ia duduk di teras musholla, kembali merenung, berpikir, dan menata hati. Yara menarik nafas panjang. Ia membuka lagi kartu undangan Agung. Ingatannya melayang pada rentetan kejadian beberapa bulan lalu, saat ia menolak pinangan Agung, juga saat ia memberitahu Agung jika Ardi akan melamarnya. Mungkin, seperti inilah rasa sakit di hati Agung saat itu. Lalu, Yara pun teringat pada kebesaran hati Agung saat itu. Agung tak marah, tidak pula jadi menjauhi Yara. “Ya Allah, dulu Agung melepasku dengan ketulusan rasa sayangnya padaku. Kini, tolong beri aku kekuatan yang sama. Aku ingin bahagia melihatnya mengepakkan sayap dan terbang tinggi, meski bukan aku yang menemaninya.“, bisiknya lirih.

@@@

            Setelah pernikahan Agung dan Dira, ternyata hari-hari Yara berlalu seperti biasa. Yara tak selemah yang dirinya kira. Bahkan saat menghadiri resepsi pernikahan Agung, Yara mampu melangkah tanpa getir di hatinya. Semua ini menjadi hikmah luar biasa bagi Yara. Hikmah yang menambah keyakinannya, jika Tuhan tak akan pernah memberi ujian diluar batas kemampuan hamba-Nya. Dengan cinta-Nya, Tuhan memberi manusia kekuatan untuk tegar.

            Malam itu, hanya Yara yang menemani Ardi di rumah sakit. Bu Dharmawan yang terserang flu berat, terpaksa beristirahat di rumah. Itu pun setelah Pak Dharmawan memohon agar istrinya tak bersikeras tetap di rumah sakit. Toh kalau pun di rumah sakit, Bu Dharmawan tak diperbolehkan masuk ke dalam ruang ICU.

            Seperti biasa, seusai sholat Isya, Yara membaca al-Quran di samping Ardi. Yara yakin, meski Ardi terbaring koma dan seolah hidup di dimensi yang berbeda, Ardi tetap bisa mendengar alunan ayat-ayat suci yang ia bacakan dengan setengah berbisik.

            Ritual selanjutnya, Yara meletakkan Quran berukuran mini yang tadi dibacanya, di samping kepala Ardi. Yara merapikan posisi selimut, memastikan semua bagian tubuh Ardi tertutup. Tanpa sengaja, Yara sedikit terpeleset dan hampir terjatuh di atas dada Ardi. Untung kedua tangan Yara sigap menahan tubuh rampingnya. Yara segera menegakkan tubuhnya. Ia sangat lega karena tak sempat menimbulkan suara ribut.

            Yara kembali meraih bagian selimut yang belum menutup tangan kanan Ardi. Kini, seluruh tubuh Ardi, kecuali bagian kepala tentunya, sudah hangat terbalut selimut. Entah kenapa, tiba-tiba Yara ingin membelai rambut Ardi dan mengecup keningnya. Yara langsung membaca istighfar. Tapi kemudian ia membungkukkan badannya, hingga kepalanya berada tepat di samping telinga Ardi. “Di, cepatlah sadar ya. Setidaknya, kamu mampu mengucap ijab kabul. Aku ingin halal merawatmu.”, Yara berbisik lembut lalu tersenyum.

Aku, Kamu, dan Dia (part 5)

November 1st, 2007 by arastiya

            Berkali-kali Yara mengganti channel televisi. Tak ada satu pun acara yang menarik baginya. Kini ia beralih ke majalah, membuka lembar demi lembar tanpa membaca satu kata pun. Menunggu memang pekerjaan yang paling menjenuhkan. Apalagi jika kita harus menunggu dengan perasaan yang tak karuan. Sudah pukul 2 siang, tapi Ardi belum juga nongol. Padahal, jika ia berangkat selepas dzuhur, seharusnya sudah sampai di rumah Yara sekitar pukul 1 siang. Kalaupun macet, biasanya hanya akan molor sekitar setengah jam. Toh rumah mereka memang tak terlalu jauh, yang bisa ditempuh hanya dalam tempo seperempat jam jika jalanan kosong melompong.

            Kini keresahan Yara jadi double. Resah karena dia akan melakuan sebuah langkah besar, juga cemas akan keterlambatan Ardi. Kejadian tadi pagi, meski Yara sadar Agung tak lagi menjadi harapan, tidak mengurungkan niat Yara melakukan rencananya. Akhirnya Yara menelepon rumah Ardi dan tersambung dengan sang calon ibu mertua. Darinya Yara tahu jika Ardi sudah berangkat sejak pukul setengah 1 siang. Ardi bahkan sengaja menggunakan sepeda motor agar bisa sampai lebih cepat di rumah Yara. Tapi kenapa Ardi belum juga datang? Pertanyaan itu makin membuat Yara gelisah. Yara mencoba menghubungi HP Ardi. Non aktif.

            Pukul 4 sore. Ardi masih belum menginjakkan kaki di rumah Yara. Yara berdiri di teras mengamati jalan di depan rumah, berharap Ardi segera datang. Sayup-sayup Yara mendengar dering telepon rumah. Sesaat kemudian, suara Bi Sum memanggilnya dan memberi tahu jika Ayah Ardi meneleponnya. Yara berlari menuju ruang tengah lalu mengambil gagang telepon. “Assalamualaikum, Pak“, Yara menyapa dengan salam. “Yara, kamu harus kuat ya, Nak.“, nada suara Pak Dharmawan membuat Yara bertanya-tanya, “Ada apa, Pak?“. Hati Yara semakin gelisah dan merasakan firasat tak enak. “Ardi, Nak, Ardi…..“, suara Pak Dharmawan sempat terputus, “Ardi di rumah sakit. Tadi ia kecelakaan, ditabrak truk dari belakang. Sekarang dia di ruang operasi, ada pendarahan di dalam…” Pak Dharmawan belum selesai bicara, namun Yara sudah terkulai lemas. Tangannya yang gemetar tak lagi kuasa memegang gagang telepon. Ibu Yara yang sedang menonton televisi kontan menjerit melihat anaknya setengah tak sadarkan diri.

            Mulut Yara masih terkunci saat ayah ibunya bertanya apa yang terjadi. Yara dibopong menuju sofa di seberang pesawat televisi. Bi Sum mengambilkannya segelas air putih. Tapi belum sempat air tersebut diteguk, tangis Yara meledak. “Maafkan aku Ardi, maafkan aku Ardi…” , kalimat itu meluncur dari mulut Yara seiring air matanya yang kian deras. Keluarga Yara semakin bingung menerka apa yang terjadi.

            Ayah Yara membimbing membaca istighfar. Perlahan Yara mulai tenang dan menguasai diri. Akhirnya ia bisa menjelaskan kabar yang baru saja disampaikan Ayah Ardi. Ia pun mengungkapkan rasa bersalahnya, Ardi mendapat kecelakaan dalam perjalanan ke rumah mereka. Kecelakaan yang mungkin tak akan terjadi jika ia tak meminta Ardi untuk datang siang itu. Orang tua Yara berusaha menenangkan Yara dan meyakinnya jika kecelakaan itu bukan salahnya, melainkan sudah kehendak Allah. Tapi hati Yara tetap dicekam rasa bersalah. Karena jauh di dasar hatinya, rasa bersalah itu hadir bukan karena dia telah meminta Ardi datang ke rumahnya, melainkan tujuan ia meminta Ardi datang.  

@@@

            Langkah Yara terhenti di depan pintu ruang ICU. Tangannya memegang gagang pintu dengan gemetar. Ia mengumpulkan keberanian untuk sanggup melihat Ardi terbaring, koma. Perlahan Yara masuk dan mendekati Ardi. Ia melihat 2 pasien lain di ruangan tersebut yang kondisinya sama dengan Ardi. Inilah kali pertama Yara memperhatikan wajah Ardi dengan seksama. Wajah pucat dengan mata tertutup, oksigen di hidung dan selang di mulut. Yara tak mampu menahan tangis. Rasa bersalah menusuk hati hingga ia sulit bernafas. Ia terduduk lemas di samping kanan tubuh Ardi. Kepalanya menunduk dan hatinya berdialog dengan Tuhan, memohon ampunan dan kesembuhan Ardi.

            Yara kembali memandang wajah Ardi. Ia berharap apa yang ada di depannya hanyalah mimpi buruk semata. Ia berharap bisa memutar kembali sang waktu. “Di, kamu kabulkan permintaanku sebelum aku sempat mengatakannya. Tapi kenapa harus dengan cara seperti ini?“, Yara tak kuasa meneruskan kata-katanya. Ia merasa dirinya sebagai perempuan paling jahat di muka bumi.

Sebuah tepukan lembut di bahu kanan Yara, sedikit mengejutkannya. Yara menengokkan wajahnya pada si empunya tangan. Calon ibu mertua Yara tersenyum meski kesedihan terpancar jelas dari wajahnya.Yara bangkit dari duduknya dan langsung memeluk Ibu Dharmawan. “Maafkan Yara, Bu. Ini semua salah Yara. Andaikan saja Yara tak meminta Ardi untuk datang ke rumah, ini semua tak akan terjadi.”, kalimat itu mengalir dari mulut Yara sambil sesegukan. Tangan Bu Dharmawan mengelus lembut kepala Yara yang berbalut jilbab biru tua. “Ini bukan salah mu, Nak. Sudah…sudah…jangan salahkan dirimu seperti ini. Ini musibah, Nak. Ibu dan Bapak sama sekali tak punya pikiran jika ini salahmu.“ Ucapan Bu Dharmawan sedikit menyejukkan hati Yara. Perlahan Yara melepas pelukannya lalu memandang wajah sang calon ibu mertua.

“Jika mau mencari siapa yang salah, maka kita semualah yang salah, termasuk Ardi sendiri”, kalimat Bu Dharmawan terhenti sejenak, ia duduk di kursi yang sebelumnya diduduki Yara. Tangannya mengelus rambut putra bungsunya. “Kamu menyuruhnya datang ke rumahmu. Tapi sesaat sebelum ia keluar rumah, Ibu memintanya untuk sekalian mampir ke rumah teman Ibu di Lenteng Agung, menyerahkan undangan pernikahan kalian. Karena itulah, akhirnya Ardi menukar kunci mobil dengan kunci motor. Ibu sempat memintanya untuk tetap pake mobil karena Ibu lihat di luar sangat mendung. Tapi Ardi bersikeras naik motor, katanya agar tak terlambat ke rumahmu meski ia mampir dulu ke rumah teman ibu. Kalau hujan, dia bilang ada jas hujan. Itulah Ardi, keras kepala! Tapi kalaupun kamu tak memintanya datang, Ardi tetap akan keluar rumah. Semalam dia cerita sama ibu kalau siang ini dia akan ke toko bunga. Ia ingin memberi kejutan di hari pernikahan kalian. Ia ingin pelaminan kalian dipenuhi bunga lili, bunga kesukaanmu kan?“. Yara melongo mendengar akhir cerita Bu Dharmawan. Yara sungguh tak menyangka jika dibalik sikap Ardi yang jauh dari romantis, ternyata punya rencana memberikan kejutan semanis itu. Sementara Bu Dharmawan, akhirnya tak kuasa membendung airmata. Meski tak bersuara, tangis itu menjadi ungkapan kesedihan hati seorang ibu yang berusaha tetap tabah.

@@@

HP Yara non stop menerima SMS sejak pagi tadi. Semuanya menanggapi kabar yang dikirim Yara lewat SMS, bahwa pernikahannya ditunda. Mereka bertanya kenapa pernikahan tersebut ditunda, lalu memberi dukungan agar Yara tabah dan mendoakan Ardi cepat sembuh. Di hari ke-3 Ardi terbaring koma, Yara baru memiliki kekuatan untuk memberi tahu teman-temannya. Di satu hari sebelum hari dimana seharusnya Yara dan Ardi resmi menjadi suami istri, Yara tak memiliki pilihan selain menyebarkan kabar pengunduran hari pernikahan. Diundur entah hingga kapan, atau mungkin justru dibatalkan?  Tapi ada satu orang yang tak memberikan respon atas kabar tersebut, bahkan hingga hari menjelang sore. Agung.

“Ra, kamu sudah ashar?“, Bu Dharmawan mengingatkan Yara yang sedari tadi tak juga berhenti olahraga jempol. “Belum, Bu. Ini SMS teman-teman tak berhenti-berhenti. Mereka kaget mendengar kabar tentang kondisi Ardi dan pengunduran pernikahan kami.“, Yara memasukkan HP-nya, ke dalam tas lalu pamit beranjak ke musholla rumah sakit.

Setengah jam kemudian Yara sudah kembali ke ruang tunggu di depan ruang ICU. Di ruangan itulah Yara tidur atau sekedar duduk-duduk selama 3 hari belakangan ini. Bersama Bu Dharmawan, keduanya hanya pulang ke rumah sebentar untuk membawa baju ganti, lalu segera kembali ke rumah sakit. Siapa sangka jika masa cuti yang seharusnya digunakan untuk persiapan pernikahan, justru dihabiskan di rumah sakit?

“Tadi ada temanmu datang, Ra. Sekarang dia di kafetaria. Dia memintamu menyusul ke sana.“, ucap Bu Dharmawan sambil menutup buku yang sedang dibacanya. “Siapa, Bu?“, pertanyaan Yara ini dijawab dengan gelengan Bu Dharwawan. Rupanya sang ibu mertua lupa menanyakan nama sang tamu. “Kalau begitu, Yara pergi ke kafetaria sebentar ya, Bu.“, Yara kembali melangkah ke arah lift, turun ke lantai dasar, melewati taman, lalu masuk ke kafetaria. Yara berusaha mencari sosok yang ia kenal diantara puluhan pengunjung kafetaria. Matanya lalu terpaku pada satu tubuh yang duduk membelakanginya, namun Yara sangat mengenali postur tersebut. Yara melangkah mendekati orang tersebut. Meski merasa sangat yakin jika orang itu adalah temannya, Yara enggan untuk berteriak memanggilnya. Karena mungkin saja kan Yara salah orang? Setelah dirinya berdiri tepat di belakang si teman, barulah Yara memanggil si teman dengan pelan, “Agung?“. Seorang laki-laki dengan t-shirt merah darah menengok ke arahnya. Dia memang Agung!

=======nyambung lagi=======

Aku, Kamu, dan Dia (Part 4)

October 9th, 2007 by arastiya

            Yara mengambil HP-nya yang tergeletak di atas meja rias. Tangannya
sedikit gemetar saat jempol tangan kanannya membuka phone book, mencari nama Ardi, lalu men-dial-nya. Jantungnya kian berdetak kencang karena gugup. “Assalamualaikum”,
suara Ardi dari seberang sana terdengar begitu lembut. “Wa’alaikum salam. Maaf aku telepon pagi-pagi, Di.”,
suara Yara masih terdengar serak karena gugup. Ardi langsung menunjukkan rasa tak keberatannya atas telepon Yara. Tanpa
berpanjang-panjang, Yara mengemukakan tujuannya menelepon. Ia meminta Ardi
datang ke rumahnya siang ini. “Ada yang ingin aku diskusikan sama kamu, Di.
Bisakan?“ Pertanyaan ini langsung bersambut persetujuan Ardi, “Okay, insya
Allah, aku berangkat ke rumahmu selepas dzuhur.“ Yara menutup telepon setelah
mengucapkan salam. Ia lalu menarik napas panjang seraya memejamkan mata.

     Yara melirik jam dinding
yang masih menunjukkan pukul setengah 7 pagi. Mulutnya menguap. Masih cukup
pagi untuk tidur lagi, meski hanya sebentar. Yara melangkah mendekati tempat
tidur lalu merebahkan badannya. Matanya terasa perih dan berat. Yara baru saja
akan terlelap saat pintu kamarnya diketuk dan membuatnya kembali terjaga.

     “Neng Yara, ada tamunya
tuh. Mas Agung.“, Bi Sum mengatakan maksud ketukannya dari balik pintu.
“Agung?!“, Yara sangat terkejut. Ia bergegas membuka pintu dan menanyakan siapa
nama tamu yang datang pada wanita setengah baya yang sudah bekerja di rumahnya
sejak dirinya masih balita. Yara ingin memastikan jika dirinya tak salah
dengar, Agung-lah sang tamu yang dimaksud Bi Sum. Seketika ia merasa bingung,
gembira, sekaligus gugup. Agung, memang dia yang datang! “Tolong minta dia
nunggu bentar ya, Bi. Saya mau cuci muka dulu“, Yara lalu kembali menutup pintu
kamarnya, sementara Bi Sum beranjak menuju ruang tamu, menemui Agung.

         Yara gelisah. Ia bingung
harus bagaimana. Haruskah ia melakukan rencana yang baru saja terlintas di
benaknya beberapa menit lalu? Apakah kedatangan Agung yang mendadak, adalah
petunjuk-Nya agar ia melakukan rencana itu? Sekujur tubuh Yara terasa dingin. Yara
membasuh wajahnya. Sebetulnya ia ingin mandi dulu sebelum menemui Agung.
Tapi
ia tak mau membuat Agung menunggu lama. Yara menyisir rambut dan mengikatnya. Ia
lalu memakai bergo warna biru muda. Berkali-kali Yara membaca basmallah untuk
menenangkan diri, meyakinkan hati, dan berharap ia tak salah melangkah.

         Agung meneguk kopi racikan Bi Sum. Matanya
mengitari ruang tamu. Meski sudah lama berteman dengan Yara, tapi ini adalah
kali pertama dirinya bertandang ke rumah Yara. Ia mengamati foto keluarga Yara
yang terpasang di ruang tengah, tapi masih cukup jelas terlihat dari ruang
tamu. Ruang tamu dan ruang tengah rumah itu memang hanya dipisahkan oleh lemari
kaca dimana ayah Yara menyimpan buku-bukunya. Agung melihat kehangatan dalam
foto tersebut. Saat itulah Yara muncul sambil tersenyum dan mengucap salam.

         “Wa’alaikum salam. Apa
kabar, Ra?“, Agung memulai percakapan dengan pertanyaan standar dan disambut
dengan jawaban standar pula. Agung terlihat sedikit salah tingkah dan berusaha
ia tutupi dengan kembali meneguk kopi. “Kopinya mantap nih!“, komentarnya. Yara
menangapinya dengan senyuman. Senyuman yang dulu membuat Agung semakin kesemsem
oleh Yara.

          “Tumben kamu mampir ke
sini?
Pagi-pagi pula! Apa ada yang penting, Gung?“, Yara langsung to the point. “Mmmm…gak juga sih.
Sebetulnya aku dalam perjalanan ke Depok. Jadi, mumpung sejalan, aku mampir
aja. Gak papakan?”. Yara kembali tersenyum sambil mengangguk. “Mata kamu kok
kelihatan bengkak, Ra?”, Agung rupanya menyadari “kelainan” di mata Yara. “Oooh
ini…semalam aku kurang tidur, keasyikan baca”, Yara berbohong. Adalah hal yang
tak mungkin jika ia mengakui fakta bahwa semalaman ia menangis, kan?

         “Ooooh
kirain begadang bikin kebaya buat nanti kawinan”, Agung melontarkan kalimat
canda yang membuat jantung Yara hampir berhenti berdetak. Yara menunduk,
menyembunyikan ekspresi wajahnya yang berusaha menahan tangis. “Kamu ini, nikah tinggal beberapa hari lagi, tapi
undangan buatku kok belum dikirimin sih?
Janjinya udah dari minggu
kemarin. Jadi akunya deh yang datang untuk ngambil undangannya. Nanti kalau gak
bawa undangan, aku gak diperbolehkan masuk heheheh…”, Agung kembali memberi guyonan
yang membuat Yara harus semakin keras berusaha membendung airmata. Matanya kini
berkaca-kaca. Tapi Yara segera memiliki alasan untuk mencegah Agung melihatnya.
“Oooh, sebentar ya, aku ambilkan dulu undangannya.”, Yara bangkit dari duduknya
lalu berlari kecil menuju kamar.

         Yara
berusaha menenangkan diri. Kembali ia basuh wajahnya, berharap sembab di
matanya tak lagi meninggalkan jejak. Tapi ia tak bisa berlama-lama agar Agung
tak curiga. Yara mengambil salah satu undangan dari atas meja kecil di samping
tempat tidurnya. Tapi bukan undangan dengan nama Agung yang tertempel di
amplop, yang semalam basah oleh airmatanya. Melainkan satu kartu undangan tanpa
nama. Secepat kilat ia mengambil pulpen di rak buku, lalu menuliskan nama
lengkap Agung di amplop undangan tersebut. Hatinya bergetar saat nama laki-laki
itu ditulisnya. Selama beberapa detik Yara memandangi undangan di depannya,
sebelum ia melangkah menuju ruang tamu.

     Yara menyerahkan undangan pernikahannya
tanpa berkata-kata. Ia hanya….lagi-lagi tersenyum. Tapi kali ini,
sesungguhnya senyum yang keluar dari hati yang menjerit. Agung mengambil
undangan yang diletakkan Yara di atas meja, tepat di depan Agung. Agung
mengamati undangan berwarna hijau daun dengan gambar latar belakang panorama
hutan pinus. “Undangan yang sederhana tapi cantik.“, Agung berkomentar. Yara
hanya menimpali dengan ucapan terima kasih.

     “Kamu belakangan kok aneh,
Ra?“, sebuah pertanyaan dari mulut Agung yang membuat Yara tersentak. Belum
sempat ia menjawab, Agung kembali berbicara. “Sejak minggu lalu, kamu gak
pernah online lagi di YM, padahal
kamu baru cuti minggu ini kan? Aku sms, kamu gak jawab. Aku telepon, HP-mu
selalu mati. Sekalinya nyambung, tapi kamu gak angkat. Kamu baik-baik aja
kan?“, akhirnya Agung menyampaikan tujuannya bertandang ke rumah Yara.
“Aku….“, Yara tergagap. Ia tak mampu menemukan alasan kuat untuk dijadikan
dalih yang masuk akal. Hingga dari mulutnya meluncur alasan sekedarnya, “Aku
gak papa. Internet di kantorku lagi bermasalah, jadi aku gak online. Kalau HP, belakangankan aku
sering banget telpon. Telpon percetakan, katering, temen-temen, penjahit, ada aja masalah. Jadi baterenya cepet abis dan aku lagi keluar rumah.
Jadi, HP-ku kan mati. Kalau sms, aku kelupaan balas. Maaf ya.“

         Agung mengamati Yara yang
berbicara sambil menundukkan kepala. Ia berusaha meyakinkan diri jika Yara
berkata jujur. “Syukurlah kalau kamu baik-baik aja. Aku sempat khawatir aja.“,
Agung menyembunyikan kecurigaannya. “Kalian, maksudku kamu dan Dira, apa
kabarnya“, Yara balik bertanya. “Baik. Tapi Dira masih minta waktu untuk
mencari kemantapan hati sebelum aku dan keluargaku datang melamar. Jadi….aku
sih tergantung dia.“, Agung bercerita sambil mengganti posisi duduknya.

             “Jadi, kamu sendiri sudah
yakin memilih Dira?“, Yara kembali bertanya. “Ya!“, jawaban singkat dan tegas
dari Agung. “Kenapa?“, Yara menunjukkan rasa ingin tahunya dengan penuh
kecemasan. “Apa yang ada pada Dira, sudah cukup bagiku.“, Agung kembali menjawab
dengan suara penuh kepastian.
“Kamu mencintainya?“, Yara meluncurkan
pertanyaan dengan suara serak. Agung
tak menjawab. Mata mereka beradu, berusaha berbicara lewat mata. Tapi sesaat
kemudian keduanya tertunduk. “Aku akan menikahinya.“, Agung berbicara sambil
mengangkat kepalanya, tapi kali ini dengan  suara yang tak setegas sebelumnya.

             “Wah, udah mulai siang“,
Agung melirik jam tangannya. “Aku pamit ya. Yang penting sekarang aku merasa
tenang kamu baik-baik saja.“, Agung mengambil jaket yang ia letakkan di samping
kanannya, berdiri, lalu melangkah menuju pintu. Tapi kemudian ia berhenti,
membalikkan badan, memandang sejenak Yara yang masih duduk di sofa. “Kamu sudah
menentukan pilihan Yara. Dan sekarang, aku juga sudah  menentukan pilihan.“, Agung berkata dengan
sebuah senyum. Ia lalu mengucapkan salam dan beranjak pergi, meninggalkan Yara
yang masih duduk, tertunduk, dan meneteskan air mata. Yara tak mendengar jika
hati Agung berkata, “Aku masih menyanyangimu, Yara. Tapi Dira adalah
pilihanku“.

 

=======nyambung
lagi==========

Aku, Kamu, dan Dia (part 3)

September 25th, 2007 by arastiya

            Meoooong!!! Suara
kucing yang kesakitan karena jatuh dari atap, membangunkan Yara dari
lamunannya.
“Hmmm….pasti itu kucing tetangga. Dasar kucing,
hujan-hujan gini, main di atap.“, bisiknya. Tangan kanannya masih setia menggenggam kartu undangan yang kian basah oleh
airmata.
Yara melirik jam dinding yang terpasang di atas televisi. Pukul
1 pagi. Ia kemudian meletakkan kartu
undangan di atas ranjang dan melangkah menuju kamar mandi, mengambil air wudhu.
Dengan segala gundah dan kesedihan, Yara sholat 2 rakaat, istikharah memohon
kemantapan hati dari-Nya.

 Dalam 2 rakaat sholatnya,
Yara tak henti menangis. Saat dirinya merasa benar-benar dekat dengan yang Maha
Kuasa, Yara kian tak kuasa membendung tangis. Pada-Nya Yara mengadu juga
memohon ampun. Pada-Nya Yara meminta petunjuk. Hanya pada Allah, Yara bisa
jujur hingga ke dasar hati. Yara tak punya keberanian untuk menceritakan
kecamuk hatinya pada orang lain. Yara akhirnya larut dalam curhat pada Sang
Maha Pengasih.

“Ya Allah, telah Kau kabulkan doaku. Ardi
meminangku. Tapi maafkan aku ya Rabbi, aku bukannya bersyukur tapi malah
bersedih. Aku justru ingin lari dari harapanku sendiri. Mohon ampuni aku, ya
Allah…… Ya Allah, tapi kini aku menyadari kekeliruanku selama ini. Aku
telah jatuh cinta pada seseorang karena kesempurnaannya di mataku. Aku telah
menentukan sosok yang terbaik untukku, padahal Engkau-lah yang Mata Tahu dan
Menentukan. Aku khayalkan sebuah rumah tangga yang sakinah dan bahagia bersamanya,
tanpa ada pertengkaran atau konflik. Aku khayalkan ia sebagai suami yang penuh
tanggung jawab dan kelembutan. Aku khayalkan ia akan sangat mencintaiku hingga
tak akan pernah melukaiku. Semuanya akan indah jika aku bersamanya. Tak ada
dalam khayalku, aku akan merasa kesal padanya. Karena kubayangkan Ardi sebagai
sosok tanpa kekurangan.“  

“Tapi khayalku jika bersama Agung, justru sebaliknya. Agung yang tak
sempurna di mataku. Dalam khayalku, rumah tanggaku tak akan melulu berisi
keindahan. Kubayangkan, diriku akan kerap kesal karena sikapnya yang cuek
bebek. Kesal karena ia tak bersikap romantis ataupun penuh kelembutan. Kubayangkan
kami akan sering berbeda pendapat karena kami memiliki banyak perbedaan. Tapi
anehnya, sekarang aku justru berpikir jika bersama Agung-lah aku akan meraih
kebahagian yang sejati. Kebahagian yang kudapat karena aku mencintainya sebagai
manusia biasa. Manusia yang Kau ciptakan dengan segala kelebihan dan
kekurangan….Dengan segala hal yang kuanggap kekurangganya, aku justru jadi
merasa lengkap. Kami begitu berbeda. Aku yang pendiam sedang dia sangat pandai
bicara. Aku yang introvert sedang dia sangat ekspresif. Aku yang datar dan dia
emosional. Aku yang pemalu, dia begitu cuek.“ 

“Aku juga menyadari, selama ini aku tak menjadi diriku yang sasungguhnya
saat bersama Ardi. Aku selalu berusaha tampil sempurna di depannya. Aku sangat
menjaga sikap dan ucapanku. Aku ingin tampak “sepadan“ dengannya. Tapi saat
bersama Agung, aku menjadi diriku apa adanya. Bersamanya, aku bisa tertawa
lepas. Aku tak sungkan menunjukkan kelemahanku. Saat kusedih, saat kubahagia,
aku selalu ingin berbagi dengannya.“    

“Ya Allah, kesempurnaan Ardi telah mempesona mataku. Tapi keteguhan dan
ketulusan Agung mencintai-Mu telah meluluhkan hatiku. Ya Rabbi, aku sungguh tak
menyangka, dibalik penampilannya yang jauh dari kesan religius, ternyata dia
mencintai-Mu lebih dari apapun. Aku tak pernah bertemu orang yang begitu tulus
memaafkan orang-orang yang sudah sangat menyakitinya. Orang yang selalu bersyukur
dengan segala yang Kau beri. Orang yang begitu tegar meski ujian yang Kau beri
begitu berat dan bertubi-tubi. Dia justru selalu mengambil hikmah dan semakin
tegar. Orang yang teguh memegang prinsipnya meski harus melawan arus.
Di
saat teman-temannya meminum wisky, ia tetap memilih air mineral. Ia tak peduli
jika dirinya disebut kuno. Toh ujung-ujungnya, ada juga beberapa temannya yang
bertanya kenapa minum alkohol itu haram, hingga Agung pun mendapat kesempatan
menjelaskan dan si teman akhirnya mengerti serta tak lagi minum alkohol. Ya
Allah…aku  sangat kagum pada
keberaniannya untuk berdakwah di antara orang-orang yang tak peduli pada
hukum-Mu karena ketidaktahuan dan ketidakpahaman mereka. Ia tak banyak bicara
tapi lebih banyak berbuat…..Tapi ya Allah, sayangnya, mataku terlanjur silau
oleh pesona Ardi, hingga aku terlambat melihat sosok Agung yang sebenarnya. Hingga dulu aku menolak pinangan laki-laki
seindah dia. Maafkan aku ya Allah…..“, tangis Yara pun makin meledak.   

  Pagi itu, Yara bangun dengan mata bengkak.
Wajahnya mirip ikan mas koki. Seusai sholat subuh, Yara memandangi dirinya di
cermin. “Apa yang akan kau lakukan Yara?“, ia bertanya pada diri sendiri dengan
hembusan nafas yang sangat berat. Ia lalu memandangi puluhan kartu undangan pernikahannya
yang tertumpuk rapi di atas meja kecil, di samping tempat tidurnya. Sebagian
besar undangan sudah dikirim. Sisanya adalah kartu undangan cadangan dan
beberapa undangan yang belum terkirim. Salah satunya adalah undangan yang
ditujukan pada seseorang bernama Ramadhan Agung Dharmawan. Undangan yang
semalam basah oleh puluhan tetes airmata Yara.

Yara kembali berdialog dengan hatinya. Ia berusaha mencari jawaban atas
pertanyaan-pertanyaan: apa yang harus ia lakukan? Apakah ia harus jujur pada
dunia, jika menikah dengan Ardi bukan lagi impiannya? Tapi, tidakkah ia sudah
terlalu jauh melangkah untuk memutar balik? Apakah cinta yang sesungguhnya ia
rasakan, lebih baik disimpan di hati saja? Tapi jika begitu, tidakkah akan
menjadi penyesalan seumur hidup? Tapi, jika pun ia memilih untuk membatalkan
pernikahannya dengan Ardi, apakah Agung masih memiliki perasaan untuknya?
Bukankah Agung akan menikah dengan Dira? Egoiskah ia jika memilih meraih
kebahagiannya? Karena jika itu ia lakukan, maka akan banyak orang yang terluka.
Ardi, Dira, keluarganya, keluarga Ardi, keluarga Dira……. 

Semua pertanyaan itu terus berputar
di kepala Yara hingga membuatnya pusing. Rasanya tak ada jalan keluar terbaik. Yara ingin berlari ke gunung, sendiri, dan
tak perlu kembali. Hidupnya, masa depannya, kebahagiannya…..kini tergantung
pada satu pilihan besar. Tapi Yara harus berlomba dengan waktu, karena tak
sampai sepekan lagi, ia akan menjadi isteri Ardi.

Yara membuka jendela. Ia melihat sinar matahari perlahan menerangi pagi. Yara
lalu memejamkan matanya dan menarik nafas dengan lembut. Ia ingin udara pagi
masuk ke dalam dirinya, memberi kesegaran dan menggantikan penat yang menyiksa.
Saat ia kembali membuka mata, suasana pagi sudah jauh lebih terang. Tiba-tiba
ekspresi wajahnya berubah. Ada senyum di bibirnya. “Sepanjang aku hidup, aku
masih punya kesempatan untuk bertemu pagi, karena pagi akan selalu datang.“,
gumamnya sambil mulai berseri. Ia sudah tahu apa yang harus dilakukannya. 

==============nyambung lagi============

Aku, Kamu, dan Dia (part 2)

September 19th, 2007 by arastiya

        Ada rasa takut
saat Yara harus jujur mengungkapkan penolakannya pada Agung.
Yara tak
ingin menyakiti hati Agung, apalagi merusak hubungan baik mereka. Tapi Yara tak bisa menggantikan posisi
Ardi di hatinya, dengan Agung. Kejujuran yang mungkin harus ia bayar dengan
beranjaknya Agung dari hari-hari Yara.

     Tapi ketakutan Yara ternyata
tak terjadi. Rupanya Agung adalah laki-laki yang berjiwa besar. Ia sangat
mengerti dan menghormati pilihan Yara. Penolakan Yara tak mengubah sikapnya.
Agung tetap hangat dan bersahabat. Tetap setia mendengarkan keluh kesah Yara,
memberi Yara dukungan, membuat Yara tertawa, bahkan mendorong Yara untuk meraih
impiannya, termasuk menjadikan Ardi pendamping hidup. Tak hanya di depan Yara,
Ardi bahkan mendoakan kebahagian Yara di setiap nafasnya, terutama setiap
selesai sholat. Bagi Agung, kebahagian Yara adalah utama, meski kebahagian itu
terwujud tanpa dirinya. Satu ketulusan
rasa yang membuat Agung selalu ingin memberi tanpa berharap Yara akan
memberikan hal serupa.

3 bulan lalu

         Sejak lulus kuliah 2 tahun lalu,
tepat sebulan setelah Yara diantar pulang oleh Ardi, Yara bekerja di sebuah
konsultan PR. Dunianya semakin luas, namun hatinya tetap tertuju pada Ardi.
Sesekali bertukar kabar lewat email dengan Ardi, sudah cukup membuat Yara enggan
mengalihkan harapannya pada sosok lain.  

         Hingga akhirnya, Allah mengabulkan
harapan terbesarnya. Siang itu, Yara menerima email dari Ardi. Isinya sangat
singkat. Tanpa basa-basi, Ardi mengungkapkan niatnya untuk “resmi“ bertaaruf
dengan Yara. Hati Yara melayang. Dan orang pertama yang dijadikan Yara sebagai
tempat berbagi kebahagiannya, tak lain adalah Agung. Agung yang tetap menyimpan
rasa pada Yara, ikut bahagia. Agung tak peduli meski ada bagian dari dirinya
yang terluka, yang terpenting baginya, akhirnya impian Yara akan terwujud.

         Hanya selang 2 minggu kemudian, Ardi
datang bersama keluarga besarnya, untuk melamar Yara. Tanggal pernikahan pun
ditetapkan. Tak sampai 3 bulan ke depan, Ardi akan mengucapkan ijab kabul. Yara
menghitung hari karena tak sabar menanti hari bersejarahnya dengan Ardi.
Sedangkan Agung menghitung hari, berusaha ikhlas menerima ketetapan-Nya, Yara
akan menjadi istri laki-laki lain.   

1 bulan lalu

Agung: Assalamuilaikum, Neng. Pa kabar nih?

Yara: alhamdulillah baik. Lagi sibuk apa, pak?

Agung: Biasalah, menuhin pesanan. Alhamdulillah kantorku minggu lalu dapat 2
klien baru.

Yara: siiiiiiiiiiiiiiiiiiiiip lah! ;)

Agung: gimana persiapannya nih? undangan udah beres?

Yara: Masih
dicetak, insya Allah Minggu depan udah jadi. Tapi kami sengaja cuma cetak
sedikit. Acaranya pengen sederhana aja. Paling keluarga dan teman dekat aja lah
yang diundang.

Agung: Mudah2an
lancar ya, Ra. Amin. Btw, aku punya berita nih…..

Yara: Apaan tuh?

Agung: Weekend nanti aku diajak pamanku ke rumah temannya. Katanya, dia ingin
mengenalkan aku dengan anak temannya itu.

Sreeeet….hati Yara mendesir. Ia tertegun. Ia melanjutkan chatting
dengan Agung sore itu dengan perasaan tak karuan. Yara sendiri tak mengerti
kenapa ia merasakan demikian. Ia menjadi tegang menghadapi weekend yang tinggal
2 hari lagi. “Apakah Agung akan taaruf dengan gadis itu?“, hatinya bertanya
dalam keresahan.

3 minggu lalu

         Hujan yang baru saja reda membuat
udara sore itu terasa sejuk. Tanaman terlihat lebih segar dengan titik-titik
air. Yara dan Ardi tengah sibuk menulis nama dan alamat undangan di atas label
yang kemudian ditempel pada kartu undangan. Keduanya duduk lesehan di lantai
teras samping rumah Yara. Ibu dan adik Yara ikut membantu, sambil sesekali
melirik televisi di ruang tengah yang sedang menayangkan program berita. Tak
satupun dari mereka, Ardi, ibu dan adik Yara, yang menyadari jika pikiran Yara
tak bersama mereka.  

Sejak pagi, Yara jarang ikut
berbincang. Ia lebih banyak diam dan terlihat tak bergairah.
Saat Ardi
bertanya ada apa, Yara hanya menjawab jika dirinya sedang merasa sedikit
pusing. Tapi Yara bohong. Yang sebenarnya, pikiran Yara melayang mencari
keberadaan Agung. Dua hari lalu, saat chatting di YM, Agung memberitahu Yara, jika dia dan Dira,
gadis yang diperkenalkan sang paman, sepakat untuk taaruf.

Agung:
Dia memang belum berjilbab, Ra. Tapi kalau aku perhatikan, orangnya hanif.
Jika kelak kami berjodoh, doakan gw bisa membimbingnya agar berjilbab dengan
hati ya. Amin.

Yara: amin. trus…?
Agung: Anaknya
manis. Meski pendiam, tapi dia teman ngobrol yang cukup asyik. Orangnya sederhana dan gak muluk-muluk. Insya
Allah, aku serius akan taaruf sama dia.   

            Percakapan itu membuat hati Yara bergolak. Dia cemburu. Sangat cemburu.
Kedatangan Ardi sejak pagi tadi tak sedikit pun membuat perasaannya membaik.
Yara bahkan mengabaikan keberadaan Ardi di rumahnya. Ia terus asyik dalam
lamunan. Lamunan yang sesungguhnya hanya menyiksa hatinya.  

1 minggu lalu

Agung: Ra, kok kamu belum kasih undanganmu sih? Kamu nikah 2 minggu lagi kan?

Yara: Iya. Loh kamu kan udah tahu kapan dan dimana aku nikah….:P

Agung: ya iya sih…tapi masak kamu gak kirim undangannya sih….kan aku pengen
liat juga. Yang hard copy-nya! ;)

Yara: Iya deh, nanti aku kirim. Ngomong-ngomong, gimana perkembangan
taarufmu?

Agung:
alhamdulillah lancar, Ra. Lusa aku akan
pulang kampung. Ngenalin Dira sama orang tua aku. Nah setelah itu, aku kan tinggal
minta tolong orangtuaku datang ke Jakarta, melamar Dira. Mudah2an jalannya
dimudahkan. Amin.

Yara: amin. Eh Gung, aku dipanggil bos nih…..aku pamit dulu ya

….

Tapi yang sesungguhnya terjadi, Yara
lari menuju toilet.
Ia tak ingin teman-teman kantornya melihat dirinya
menitikkan air mata.

 ======nyambung lagi deh=====

 

Aku, Kamu, dan Dia (part 1)

September 14th, 2007 by arastiya

Sudah 2 jam Yara bertahan dalam posisinya. Duduk di tepi ranjang, menghadap jendela yang sengaja belum ia tutup meski waktu telah beranjak tengah malam. Ia berharap menemukan kedamaian dari gerimis yang tak jua berhenti sejak sore tadi. Kepala Yara kembali tertunduk, menatap undangan yang digenggamnya. Semakin lekat ia menatap undangan, semakin berat nafas di dadanya, dan berujung pada airmata yang menambah titik-titik genangan di atas undangan. “Andai aku bisa menghentikan waktu“, hatinya berbisik dengan lirih.

“Astaghfirullah!“, Yara kembali membaca istighfar. Ia sadar betul jika kecamuk di hatinya saat itu, adalah sesuatu yang salah. Tapi perang melawan diri sendiri kadang memang jauh lebih sulit ketimbang meyakinkan orang lain.

Semula, Yara tak terlalu memperdulikan kegundahannya. Keraguan menjelang hari pernikahan, itu hal yang jamak dirasakan orang bukan? Tapi keraguan itu kian menjadi seiring dekatnya waktu perubahan statusnya menjadi nyonya Aryo Widiardi Pratomo. Keraguan yang menjadi ironi atas harapan besarnya selama bertahun-tahun. Bukankah Ardi adalah sosok pendamping yang selama ini dicarinya? Seorang lelaki soleh, berkarakter lembut, tegas, sabar, dan sangat sopan. Ia pun sangat cerdas, aktif, dan pekerja keras. Belum lagi fisik Ardi yang sangat menyejukkan pandangan. Mulai wajah yang terbilang ganteng hingga postur tubuh yang tinggi berisi. Sungguh tak ada yang kurang darinya. Tak ada! Seorang lelaki yang Yara yakini akan mampu menjadi imam baginya dan anak-anak mereka, kelak. Lalu apa yang membuat Yara ragu, bahkan ingin meledakkan tangis?

Yara menghapus airmata yang kembali membuat pipinya terasa panas. Kini ia berdiri dan melangkah mendekati jendela. Ia ingin lebih dekat dengan gerimis. Dalam hitungan detik, pikirannya tak lagi seruang dengan raga. Ia seolah memasuki mesin waktu, kembali kemasa lalu.

2 tahun yang lalu

“Pulang sendiri, Ra?“, suara Ardi membuat Yara yang sedang memasang sepatu di tangga musholla kampus, sedikit kaget. Sejenak Yara memperhatikan Ardi yang kini duduk sekitar satu meter di samping kanannya, mencari sepatu keds warna hitam miliknya. “Iya“, Yara menjawab singkat sambil tertunduk, malu. Keringat dingin mengucur, jantung berdegup kencang, tangan bergetar. Sekuat tenaga Yara berusaha menenangkan diri. Ia tak ingin Ardi menangkap basah dirinya salah tingkah. Ia berharap, jilbab hijau yang membalut kepalanya menyamarkan wajahnya yang merona.

“Rumahmu di Pasar Minggu, kan?“, Yara menjawab pertanyaan ini hanya dengan anggukan kecil. “Kalau gitu kita searah. Aku pulang bareng Dika dan Ririn. Kamu bisa ikut bergabung. Bagaimana?“, tawaran yang membuat Yara makin sulit menenangkan diri. Belum sempat Yara menjawab, Ardi meyakinkan Yara untuk pulang bersama, “Ini udah jam 10 malam, Ra. Gak baik kalau kamu pulang sendiri.“

Akhirnya, Yara mengangguk sambil mengucapkan terima kasih. Hatinya melonjak girang, ia akan pulang bersama laki-laki yang beberapa minggu terakhir ini selalu membuatnya tersenyum setiap bangun pagi dan ingin segera meluncur ke kampus. Tapi di waktu yang sama, Yara merasa bersalah pada Allah karena tak bisa menjaga hati.

    Bagi Yara, bertemu Ardi bak menemukan mata air di tengah gurun. Sebelum mengenal Ardi, hati Yara seakan tergembok. Tak satu pun laki-laki yang membawa kunci yang tepat untuk bisa membukanya. Ardi adalah sosok yang lengkap! Itulah Ardi di mata Yara. Dan kini….Ardi duduk di depannya, mengemudikan Honda Jazz hitam, mengantarnya pulang.

1 tahun yang lalu

        “Yara?!”, suara berat hampir membuat Yara menjatuhkan buku yang dipegangnya. Yara menengok ke si pemilik suara yang berada di depannya, di balik rak buku setinggi dada. “Agung! Subhanallah. Apa kabarmu?”, Yara langsung mengenali teman SMAnya itu. “Alhamdulillah baik. Waaah udah lama ya kita gak ketemu?“, keduanya kemudian larut dalam nostalgia.

         Pertemuan tak sengaja Yara dengan Agung di Gramedia Blok M berujung pada saling menukar nomor HP dan alamat email. Entah kenapa, keduanya jadi berteman dekat. Padahal sewaktu di SMA dulu, mereka hanya saling mengenal sebatas teman sekelas. Percakapan diantara mereka hanya berupa bertegur sapa saat berpapasan dan diskusi kelompok di kelas. Tapi sekarang, mereka justru menemukan banyak kecocokan hingga keduanya nyaman untuk bertukar pikiran bahkan curhat, meski hanya lewat jasa SMS dan Yahoo Messenger. Sedangkan pertemuan langsung, hanya terjadi sekali dari seribu kesempatan.

         Pada Agung, Yara bahkan tak sungkan untuk menceritakan perasaannya yang selalu rapi terpendam dalam hati, termasuk tentang Ardi. Agung yang supel dan pandai bicara, membuat Yara tak sadar telah menghabiskan waktunya di depan komputer, chatting dengan Agung. Agung yang humoris kerap membuat Yara tertawa geli. Agung yang berpenampilan cuek dan sederhana, membuat Yara nyaman berteman. Hingga terjadilah peristiwa itu…..Agung meminta Yara untuk menjadi istrinya.

         Kaget, bingung, sekaligus tersanjung, ketiga rasa itu bercampur di hati Yara. Yara menyayangi Agung, tapi hanya sebatas teman. Yang Yara tahu, hatinya masih tertuju pada Ardi, sosok yang selama ini ia cari untuk menjadi teman hidup. Dan kenyataanya, Agung sungguh berbeda dengan Ardi. Secara penampilan, Ardi terlihat jauh lebih religius. Ardi pun lebih bisa menjaga sikap. Sedangkan Agung, sering terkesan asal buka mulut. Ardi terlihat sangat dewasa, sedangkan Agung kerap terlihat konyol.

Tapi dibalik penampilannya yang selengean, Agung rupanya tergolong teguh memegang prinsip. Kalau soal yang satu ini, Yara bahkan merasa kagum. Mungkin tak banyak yang tahu, jika meski terlihat sebagai anak gaul, Agung justru menjaga dirinya agar tidak berpacaran. Begitupun dalam cara Agung menjalani hari-harinya. Meski sangat ekspresif dan tergolong emosional, Agung orang yang sangat pemaaf. Agung pun orang yang peka terhadap sekitar dan selalu mengulurkan tangan untuk membantu. Sebagai seorang perantau, Agung menjadi pribadi yang sangat mandiri dan pekerja keras. Agung bukan orang yang mudah putus asa dan relatif selalu berpikiran positif terhadap segala ujian yang diberikan Allah padanya. Tapi Agung adalah Agung. Bukan Ardi. Bukan sosok yang diidamkannya sebagai teman hidup.

–> bersambung deh……  

Pilihan

September 9th, 2007 by arastiya

Semula, percakapan siang itu hanya obrolan ringan untuk meng-up date kabar teman-teman. Tapi kabar yang kudengar tentang Lili dan Damar, ternyata menancap dalam kepala hingga terus menempel meski malam itu aku sudah sangat mengantuk. Percakapan siang itu terus tervisualisasi di benakku, lengkap dengan audionya.

"Loh, jadi mereka serius akan menikah?"

"Yup! Kabarnya sih mereka udah menentukan tanggal."

"Terus, soal perbedaan mereka gimana?"

"Lili akan convert. Karena Damar gak mau convert. Dia lebih teguh memegang keyakinannya."

"Jadi Lili rela convert?"

"Katanya sih gitu. Dia bilang, dia nggak sanggup jika harus kehilangan Damar. Semua orang udah ngingetin dia. Mulai dari cara halus hingga agak kasar. Tapi dia tetep memilih untuk convert. Dia cinta mati sama si Damar."

Orang bilang, cinta itu buta…hingga kadang membuat orang melakukan hal-hal karena dorongan emosi semata…termasuk menukar keyakinan atas nama cinta pada seseorang.

Rasa takut pun merayap. "Ya Allah, bagaimana jika pilihan itu dihadapkan padaku? Aku hanya manusia lemah. Ya Allah, tolong lindungi aku dari cinta yang bisa mengalahkan cintaku padaMU. Tolong lindungi aku dari dari cinta yang akan menjauhkanku dariMU. Dan tolong Kau bukakan hatinya, ya Allah. Semoga kau masih memilih ia sebagai hambaMU. Tolong beri ia petunjukMU, agar tetap di jalanMU. Amin"

Surat untuk Aki

August 18th, 2007 by arastiya

Assalamualaikum, Ki.

Semalam aku lewat kompleks zeni. Aku melihat satu rumah yang dihias dengan aneka hiasan bernuansa merah putih dan lampu kerlap-kerlip. Asty jadi ingat Aki.
17 Agustus adalah hari yang istimewa buat Aki. Setiap awal bulan Agustus, Aki biasanya mengecat rumah dan pagar. Lalu, Aki memasang lampu kerlap-kerlip di sekeliling rumah.
Dan setiap Asty pulang upacara 17an, Aki pasti nunggu Asty di teras rumah. Lalu Aki akan bercerita tentang masa-masa Aki harus keluar masuk hutan hingga jarang bisa ketemu istri dan anak-anak. Dan dengan bangga, Aki akan bilang, "Tadi Aki juga udah sasabraka!". Aduh Aki….dari dulu Aki gak pernah bisa menyebut kata paskibraka dengan benar hehehehe….. Tapi, mengibarkan bendera merah putih ternyata punya makna yang dalam ya buat Aki? Sampai-sampai Aki sendiri yang mengibarkan bendera di pekarangan rumah. Atau karena aki gak mau kalah sama cucu-cucu Aki yang jadi anggota paskibraka? :D

Miss U so much, Ki.

Wassalam,

Asty
(incu aki nu pang bandelna hehheheh)

Selamat Ulang Tahun, Bunda

August 15th, 2007 by arastiya

Selamat ulang
tahun bunda.

Waah, hari ini
usiamu resmi lebih dari setengah abad. Tapi di mataku, engkau masih tetap sama.
Wanita energik, hangat, dengan hati bak oasis cinta.

Bunda, rasanya
baru kemarin kita nonton lomba tarik tambang di alun-alun. Waktu itu, tubuhku masih
sangat mungil sehingga pandanganku terhalang tubuh-tubuh dewasa. Aku melihat
teman-temanku bisa asyik menonton karena duduk di atas pundak ayah mereka.
Dengan lugu, aku memintamu untuk menggendongku, agar aku bisa menonton seperti
teman-temanku. Dan apa yang kau lakukan kemudian? Kau jongkok, menyuruhku naik
dan duduk di atas pundakmu.

Aku duduk sambil
tertawa riang dan melonjak-lonjak kegirangan. Aku bahkan tak menyadari jika
tubuh mungilku ternyata terlalu berat untuk badanmu yang kurus. Tapi engkau
berusaha bertahan, karena ingin melihatku tetap tertawa riang.

Bunda, kejadian
sore itu hanyalah satu dari bukti cintamu yang tak terhitung jumlahnya. Hingga
aku tak pernah bisa menemukan kata yang tepat untuk menggambarkan keindahan
kasihmu.

Bunda, di hari
ulang tahunmu, aku hanya bisa memberimu kado rasa terima kasihku. Dengan segala
keterbatasanmu, terima kasih engkau selalu menjadi bunda sekaligus ayah yang
terbaik untukku.